____Hamba ALLAH____

____Hamba ALLAH____

Rabu, 08 Desember 2010

Namimah(adu domba)

Berbicara mengenai bahaya lisan memang
tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi
betapa besar bahaya yang ditimbulkan
olehnya jika sang pemilik tak bisa
menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”, ini menunjukkan betapa bahayanya lisan
ketika kita tidak menjaganya, sedangkan pepatah jawa mengatakan
ajining diri ono ing lati, yg maknanya
bahwa nilai seseorang ada pada lisannya,
nilainya akan baik jika lisannya baik, atau
sebaliknya. Bahkan Rasulullah memberi jaminan surga
pada seorang muslim yg dapat menjamin
lisannya. “Barangsiapa menjamin untukku apa yg ada di antara kedua dagunya (lisan) dan
apa yg ada di antara kedua kakinya
(kemaluan/farji), maka aku akan
menjamin untuknya surga(HR. Al-Bukhari) Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah
namimah (adu domba). Kata adu domba identik dengan
kebencian dan permusuhan. Sebagian dari
kita yg mengetahui bahaya namimah
mungkin akan mengatakan, “Ah, saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar2 menjaganya ia
bisa mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa
benci & dengki telah memenuhi hati. Atau
meski bisa menjaga lisan dari namimah,
akan tetapi tidak kita sadari bhwa
trkadang kita trpengaruh oleh namimah yg dilakukan seseorang. Oleh karena itu kita benar2 harus
mengenal apakah itu namimah. Definisi Namimah Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan
bahwa namimah adalah mengutip suatu
perkataan dgn tujuan untuk mengadu
domba antara seseorang dengan si
pembicara. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani
rahimahullah mengatakan bahwa
namimah tidak khusus itu saja. Namun intinya adlh membeberkan
sesuatu yg tidak suka untuk dibeberkan.
Baik yg tidak suka adalah pihak yg
dibicarakan atau pihak yg menerima
berita, maupun pihak lainnya. Baik yg
disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. Baik beupa aib ataupun bukan. Hukum dan Ancaman Syariat Terhadap
Pelaku Namimah Namimah hukumnya haram berdasarkan
ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Banyak sekali dalil2 yg menerangkan
haramnya namimah dari Al Qur ’an, As Sunnah dan Ijma’. Sebagaimana firman Allah yg artinya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak
bersumpah lagi hina yg banyak mencela,
yg kian kemari menghambur fitnah.(QS.
Al Qalam: 10-11) Dalam sebuah hadits marfu’ “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).(HR. Al Bukhari) Ibnu Katsir menjelaskan, “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar
pembicaraan) tanpa sepengetahuan
mereka, lalu ia membawa pembicaraan
tersebut kpd orang lain dgn tujuan
mengadu domba Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di
atas bukan berarti bahwa pelaku
namimah itu kekal di neraka. Maksudnya adlh ia tidak bisa langsung
masuk surga. Inilah madzhab Ahlu Sunnah
wal Jama ’ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yg
dilakukannya selama ia tidak
menghalalkannya (kecuali jika dosa
tersebut brstatus kufur akbar semisal
mempraktekkan sihir Pelaku namimah juga diancam dengan
adzab di alam kubur. Ibnu Abbas
meriwayatkan, “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. & keduanya bukanlah
diadzab karena perkara yg berat untuk
ditinggalkan. Yg pertama, tidak
membersihkan diri dari air kencingnya.
Sedang yg kedua, brjalan kesana kemari
menyebarkan namimah(HR. Al-Bukhari) Imam Asy-Syafi ’i rahimahullah berkata, “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Dan
hendaklah dia membayangkan akibatnya.
Jika tampak baginya bahwa ucapannya
akan benar-benar mendatangkan
kebaikan tanpa menimbulkan unsur
kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan, maka dia boleh
mengucapkannya. Jika sebaliknya, maka
lebih baik dia diam.” Bagaimana Melepaskan Diri dari
Perbuatan Namimah Ya ukhty, janganlah rasa tidak suka atau
hasad kita pada seseorang menjadikan
kita berlaku jahat dan tidak adil
kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah
namimah. Karena betapa banyak
perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Lebih dari itu,
hendaknya kita tidak memendam hasad
(kedengkian) kepada saudara kita sesama
muslim. Hasad serta namimah adalah
akhlaq tercela yang dibenci Allah karena
dapat menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar
kaum muslimin bersaudara dan bersatu
bagaikan bangunan yang kokoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan
janganlah kamu menjual barang serupa
yang sedang ditawarkan saudaramu
kepada orang lain, dan jadilah kamu
hamba-hamba Allah yang
bersaudara.” (HR. Muslim) Berusaha dan bersungguh-sungguhlah
untuk menjaga lisan dan menahannya
dari perkataan yang tidak berguna,
apalagi dari perkataan yang karenanya
saudara kita tersakiti dan terdzalimi.
Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik. Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak
memasukkan kita ke dalam golongan
manusia yang merugi di akhirat
dikarenakan lisan yang tidak terjaga,
“Allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii. ” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepadamu dari kejahatan pendengaranku,
penglihatanku, lisanku, hatiku dan
kejahatan maniku.) ***
Diringkas dari Petaka Lisan Menurut A-
Qur’an dan Sunnah (Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthaani) http://mujahidcyber.hexat.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar